PRIBADI KOMPETITIF

Lomba atau kompetisi adalah hal yang paling sering menggelitik hati para orang tua. Banyak anak-anak yang diikutkan dalam lomba karena ekspetasi para orang tua yang menginginkan mereka menjadi juara. Tanpa disadari tindakan yang mereka lakukan seringkali membuat anak-anak menjadi sangat kompetitif. Meskipun beberapa orang tua cukup cerdas memilih lomba atau kompetisi apa yang harus diikuti, tetapi tidak sedikit juga orang tua yang memaksakan kehendak mereka sendiri. 
Menjadi pribadi yang kompetitif perlu ditanamkan sejak dini. Anak-anak dikenalkan pada banyak hal yang berbau kompetisi. Semisal, anak ditantang untuk melipat selimut dan membereskan tempat tidur selama satu minggu. Atau, anak ditantang untuk menghabiskan makan siangnya. Dan orang tua menyiapkan hadiah atas tantangan tersebut. Hadiah yang diberikan bermacam-macam, bisa traveling atau jalan-jalan, bisa buku baru, seperangkat alat mewarnai, mainan, atau yang lainnya. Hadiah diberikan jika si anak mampu menyelesaikan tantangannya. Dengan mengenalkan kompetisi sejak dini, anak-anak diharapkan mampu bersaing ketika keluar dari zona nyamannya (dalam hal ini rumah).

Pengenalan kompetisi pada anak sejak usia dini harusnya juga diimbangi dengan pengertian-pemahaman yang diselipkan pada setiap tantangan yang diberikan. Orang tua harus mencatat bahwa tantangan yang diberikan tidak berbahaya; mampu meningkatkan kemampuan anak, baik motorik maupun kognitifnya; dan ada konsekuensi yang ditanggung dari tantangan yang diberikan. 

Para orang tua baiknya mengingat beberapa hal ketika memutuskan mengikutsertakan anak-anaknya ke dalam sebuah kompetisi atau lomba. Hal-hal yang perlu diingat adalah sebagai berikut;

1. Arti kompetisi; Orang tua perlu menjelaskan dan memberi pengertian tentang makna kompetisi kepada anak. Dengan mengenalkan dan memberikan makna kompetisi pada anak, diharapkan nantinya anak-anak dapat bersaing sesuai dengan arti sebenarnya dan mereka mempunyai dasar atas kompetisi yang mereka ikuti.

2. Berani; Anak diharapkan untuk lebih berani dalam menghadapi persaingan yang berlangsung. Mereka dituntun untuk menjadi berani dan tidak rendah diri. Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak dengan menyulut keberanian mereka.

3. Sportif; Ketika anak-anak sudah mengerti arti kompetisi dan berani untuk bersaing, tanamkan sikap sportif pada dirinya. Sikap sportif ini antara lain tidak melakukan kecurangan dalam bentuk apapun. Belajar untuk jujur dan menghargai usaha dan kejujuran teman lainnya. Sikap sportif yang dibangun sejak dini akan memberikan pengaruh positif pada karakter anak. 

4.Fokus; Melatih anak untuk fokus pada kompetisi yang dijalani. Menuntun mereka untuk belajar konsentrasi pada hal yang telah dipilih. Ketika anak-anak konsentrasi pada kompetisi, mereka akan bekerja keras untuk meraih apa yang dicitakan dan bertanggungjawab pada pilihannya. Anak-anak cenderung terpengaruh pada lingkungan, teman, hal lain yang lebih menggoda pikiran mereka. Dan tugas orang tua adalah menuntun mereka untuk tetap fokus pada kompetisi yang diikuti. 

5. Konsekuensi; Peserta yang mengikuti sebuah kompetisi haruslah paham akan konsekuensi yang akan ditanggung dibelakang. Tidak semua kompetisi memberikan dampak positif bagi pesertanya. Konsekuensi dari mengikuti kompetisi ini harus dipahami oleh orang tua dan anak-anak peserta kompetisi. Tentunya bertanggungjawab pada konsekuensi yang diterima. 

Setiap orang tua selalu ingin anaknya menjadi pemenang dalam setiap kompetisi atau lomba. Mereka akan mencoba banyak cara supaya anak-anak mereka dapat keluar menjadi juara. Minimal, perhatian. Seringkali para orang tua lupa hakikat kompetisi, bahwa menang atau kalah adalah bonus dari kerja keras. Memberikan pengertian menang dan kalah juga penting. Sebuah kompetisi digelar memang bertujuan untuk mencari pemenang. Tetapi tidak ada salahnya kita, sebagai orang tua, memberikan pengertian bahwa menang dan kalah adalah bonus atau sampingan dari tujuan mulia sebuah kompetisi itu diadakan. 

Sudah saatnya mengajarkan dan menanamkan positivisme pada anak-anak supaya mereka tumbuh menjadi generasi pemenang yang kompetitif. Generasi pemenang yang mengerti dan paham arti kompetisi (sehat) kemudian melakukan dan menjalankannya dengan baik. 

XXX

Percayalah, kau akan menjadi besar pada saatnya. Nikmati yang kau dapat hari ini. Jika itu adalah bagianmu, syukurilah. Jika itu milikmu, gunakanlah, selagi itu tidak menjadikan timpang. 

Belajarlah membuka mata dan telinga. Jangan lupakan pikiran dan hati untuk selalu menyelaraskannya. Bahwa yang kau lihat dan dengar kemudian kau melakukannya, adalah sebuah hasil dari prosesmu sebagai manusia. Ini nyata. 

Siapkan dirimu untuk arus yang lebih deras. Untuk tebing yang lebih terjal. Untuk jurang yang lebih curam. Untuk langit yang lebih biru dan tinggi. Siapkan dirimu untuk segala sesuatu yang tak terduga. 

Ucapkan kata sayang dan berikan pelukan untuk penyemangat harimu. Lakukan pada dirimu, selanjutnya pada mereka yang mencintai dan membencimu. Dan atau mereka yang menganggapmu biasa-biasa saja. Kuatkan hatimu agar kau bisa menguatkan yang lain. Sembuhkanlah dirimu agar kau bisa menyembuhkan yang lain. 

Berpeganglah pada keyakinanmu. Percayalah bahhwa Dia ada untukmu, dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. “Mandhep mantep marang Gusti”. Istilah Jawa yang tepat untuk menggambarkannya. 

Jangan menjadi hebat, karena kata itu akan membebanimu dan menghancurkanmu lewat kesombongan-kesombongan. Jangan jadi hebat, karena kata itu akan menggulirkanmu ke dalam ceruk yang sulit untuk gapai dasarnya. Jadilah biasa saja dengan kekuatan pikir, rasa, karsa yang elegan berdasar amanah langit. Niscaya kau akan merasakan hasilnya. 

Percayalah, selalu ada penopang dalam hidupmu. Dia tidak akan membiarkanmu sendiri menanggung berat pikulan yang diberikan padamu. Dia akan mengutus ciptaannya untuk menemanimu. 

Percayalah…

Percayalah…

Bintang kemenangan

IMG_9887

Kau adalah bintang. Seperti namamu, Taara Paalgunii Tunggadewi yang berarti bintang kemenangan dan keluhuran telah bersatu. Butuh waktu yang cukup lama untuk mencari namamu. Butuh keteguhan hati untuk menamaimu dengan ketiga kata itu. Dan kau lahir dengan penuh sinar, benar-benar bersinar layaknya bintang.

Kau tumbuh dalam keras dan lembutnya didikan kami. Rambutmu selalu berbau matahari, sekalipun sudah keramas berkali-kali. Kau selalu marah ketika kami mengolokmu dengan candaan bahwa hidungmu pesek. Dengan marah kau katakan bahwa itu bukan pesek, tetapi landai. Kau selalu bilang ‘gapapa’ ketika kami melarangmu melakukan sesuatu yang berbahaya. Kau yang selalu bilang ‘dicoba dulu, pasti bisa’ ketika kami gagal melakukan sesuatu dan hendak menyerah. Kau yang selalu menangis tanpa suara ketika kami marah, hanya airmatamu yang kemudian berlinang di pipi tembemmu. Kau yang selalu mengatakan ‘i love you’ kepada kami setiap hari. Kau yang selalu membuat kami jengkel ketika ngeyelmu berkelanjutan. Kau selalu punya cara untuk membuat kami tertawa, sekalipun itu tidak lucu. Seringkali kau memaksakan kehendakmu untuk pergi ke suatu tempat tanpa berpikir panjang. Kau juga yang selalu menari goyang bokong ketika kami merasa butuh dihibur. Kau selalu membisiki kami ketika menginginkan sesuatu, sekalipun itu hal yang sangat sepele.

Kau selalu menemani ketika kami bekerja. Dengan keriuhan suaramu, kau menawarkan ‘Bapak mau dhahar apa? Ibu mau pesan apa?’dari pasaranmu, mainanmu, yang selalu khusyuk kau lakukan. Kau selalu belajar untuk menanam bunga, meskipun tekniknya salah. Kau selalu membuat mainanmu berantakan dan malas membereskannya kembali, jika kami tidak berteriak heboh padamu. Kau senang mengganti channel tv ketika kami asyik nonton. Kau juga senang berlama-lama di kamar mandi hanya untuk bermain air dan monolog. Ya, monolog. Kau juga senang jungkir balik dan berlarian di dalam rumah, sekalipun kami sudah berteriak-teriak melarangmu. Kau senang makan steak, tetapi tidak menolak ketika kami ajak nongkrong di angkringan dan memesan es jeruk atau teh panas. Kau selalu tidak mau dikatakan anak kecil dan tidak mau digandeng ketika berjalan, karena kau merasa bahwa dirimu sudah besar dan menjadi kakak bagi adik-adikmu. Kau suka membaca penggalan-penggalan tulisan dimanapun itu berada. Jika itu di jalan, kau akan berusaha untuk membacanya dengan cepat. Kau juga sering bertanya tentang hal-hal di luar nalar anak-anak. Pertanyaan yang paling kuingat dan aku sulit menjelaskannya adalah ketika kau bertanya ‘Ibu, lonthe itu apa?’ dan ‘Ibu, kenapa Tuhan itu ada dan menciptakan manusia?’. Kau belajar menjadi anak yang terstruktur dalam setiap kalimat yang kau ucapkan. Kau juga suka menyindir dan mengolok, atau  membalikkan keadaan. Kau adalah anak kecil yang cerewet dan cenderung perfeksionis. Sekalipun kau tidak bisa melafalkan huruf ‘r’ dengan benar, tetapi kau selalu bisa menjelaskan sesuatunya dengan baik.

Terimakasih, karena kau sudah mengajari banyak hal. Kau mengajari kami melewati masa sulit, rapuh, jatuh, bahagia, sedih, tertawa, dan banyak rasa-masa yang lainnya. Kau menjadi bintang ketika kami lelah dalam gelap. Matamu yang sendu selalu menaungi dan penuh belas kasih. Kasih yang murni tanpa embel-embel apapun. Kau adalah malaikat yang diutus oleh-Nya untuk selalu memeluk ketika kami sedih, mengajari kami menari ketika kami bergembira.

Doa kami untukmu, jadilah engkau pribadi yang keras dan lembut dalam waktu yang bersamaan. Jadilah engkau pribadi yang tak pernah menyerah, apapun dan bagaimanapun kondisimu. Jadilah pribadi yang penuh tanggungjawab, belas kasih, dan cinta yang selalu meletup-letup disetiap langkahmu. Jadilah pribadi yang percaya dan takut akan Tuhan, hormat pada orang tuamu, dan mengasihi sesamamu. Jadilah bintang yang bersinar terang, di bumi dan di langit. Jadilah suar bagi gelap sekelilingmu. Jadilah penopang bagi kerapuhan. Jadilah bintang yang benar-benar bintang. Jadilah dirimu sendiri, Nak.

Peluklah dan selalu sadarkan kami tentang nikmat Tuhan yang diberikan melaluimu. Kami tidak meminta kau menjadi hebat, karena hebat seringkali membawa kita lupa pada hakekat kita sebagai manusia. Jadilah seperti dalam doa kami, karena itu adalah jalan menuju kehebatan yang sesungguhnya.

Taara- Bintang, terimakasih untuk semua pelajaran dan kasih tulus yang selalu ada untuk kami.

 

(Bukan) Tingkat Dewa

Sabar —> Nrima—-> Ikhlas —> Legawa

Ini adalah skema yang bisa saya simpulkan dari obrolanku dengan Bapak. Ya, beliau mengajarkan banyak hal tentang ke-legawa-an dalam konteks jawa yang njawani. Jawa yang mulai surut, dan tidak nampak dalam masyarakat yang semakin kekinian.

Sebelum sampai pada tingkatan legawa seperti skema di atas, kita harus melalui tingkatan sabar, nrima, dan ikhlas terlebih dulu. Memang ketiga hal antara nrima, ikhlas, dan legawa sekilas tampak sama, tetapi ketiganya mempunyai pemahaman dan pemaknaan yang berbeda tingkatannya. Ini sejauh yang saya tangkap dan pahami.

Bapak mengatakan bahwa sebelum sampai pada tingkatan sabar, seseorang haruslah bisa menyelaraskan diri dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan alam. Penyelarasan terhadap diri sendiri lebih kepada penyangkalan ego, yang selama ini identik dengan kedirian atau keakuan. Kita sebagai manusia tentunya memiliki ego atau keakuan yang kuat. Dilihat dari sudut manapun, kedirian kita adalah hal yang kemudian membentuk pribadi dan memunculkan tipe-tipe kepribadian dalam diri kita. Seringkali ego menuntun kita menjadi merasa lebih, atau dengan kata lain sombong, merasa jumawa, merasa bisa dan mampu.

Penyangkalan yang dimaksud disini adalah bagaimana kita menyangkal kedirian kita yang begitu besar dan membuatnya menjadi sesuatu yang nisbi. Kebanyakan dari kita akan menjawab sulit, susah, tetapi itu adalah langkah pertama yang harus dijalani ketika kita akan menapak ke tingkatan selanjutnya.Kita acapkali mengatakan bahwa penyangkalan adalah hal yang mustahil dilakukan selama kita hidup. Kita tidak akan mampu menyangkal diri kita selama masih menginjak tanah. Penyangkalan ego atau diri disini bukan tidak mungkin untuk dilakukan, selama kita berpikir realistis. Ya, mungkin itu adalah bahasa yang tepat untuk manusia yang menyebut dirinya sebagai makhluk kekinian. Berpikir, bertindak, bersikap, dan bertutur secara realistis adalah bentuk penyangkalan ego. Kita harus berpikir bahwa dunia ini tidak dibangun dari sesuatu yang parsial, yang berdiri sendiri. Sesuatu yang parsial itu harus bergabung menjadi satu dan menjadi wujud yang lebih universal atau global. Dengan kata lain, sesuatu itu menjadi obyektif jika banyak subyektifitas yang berkumpul di dalamnya. Atau obyektifitas adalah gabungan dari subyektifitas-subyektifitas.

Ketika kita mampu berpikir realistis kita akan bisa mencapai keselarasan dalam diri. Pun ketika kita sudah selesai dengan diri kita, maka yang terjadi adalah keseimbangan atau keselarasan kepada sesama dan alam. Ketiga hal ini, diri, sesama, dan alam, menjadi sebuah sinergitas yang tidak terpisah dan saling mendukung satu sama lain. Berpikir realistis dan melakukan penyangkalan terhadap kedirian kita akan membawa kita pada tahapan sabar.

Setelah sabar dalam berpikir, bersikap, dan bertindak secara realistis kita naik pada tahapan nrima. Nrima berarti menerima dalam bahasa Indonesia. Nrima disini diartikan lebih kepada kita bisa dan mampu menerima dengan apa yang sudah dan akan terjadi pada diri kita. Apapun bentuknya, baik itu pujian, cacian, makian, hinaan, terimakasih, kasih sayang, cinta, atau yang lainnya. Pada yang sudah terjadi, berarti kita menerima dengan hati dan pikiran yang lebih tenang, kalem. Sedangkan pada yang akan terjadi, kita mempersiapkan hati dan pikiran jika nanti yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita.

Kata nrima sendiri memiliki makna yang tidak hanya merujuk pada penerimaan apa yang terjadi terhadap diri sendiri, tetapi kepada semua hal. Jika ditarik mundur, ini adalah penerimaan yang berdasar pada keselarasan. Keselarasan antara diri sendiri, sesama, dan alam. Nrima dengan segala yang sudah digariskan, sekalipun itu menggembirakan atau menyakitkan. Dengan kata lain penerimaan yang realistis. Tahapan selanjutnya adalah ikhlas. Ikhlas yang benar-benar ikhlas. Ikhlas untuk melepaskan, ikhlas untuk mendapatkan, ikhlas untuk jatuh, ikhlas kembali, dan ikhlas untuk banyak hal.

Ketika dipahami dengan dangkal, antara nrima, ikhlas, dan legawa akan sama saja. Tidak ada perbedaan. Yang kemudian membuat berbeda disini adalah bagaimana melihat ketiganya dan memahaminya dalam konteks Jawa yang njawani. Belajar dimana, pada siapa, sabar, nrima, ikhlas yang paling efektif? Belajar kepada orang-orang zaman dulu yang lebih memilih tinggal di desa, yang jauh dari perkotaan, dari rutinitas pekerjaan, gosip, sikap yang acuh tak acuh, dan yang lainnya. Kita melongok isi almari orang-orang jawa zaman dulu. Disana ada kegembiraan, kesantunan, senyum, munafik dalam arti positif yang orang jawa miliki. Mereka memberi pelajaran yang tidak akan pernah habis. Sampai kapanpun. Untuk menjadi Jawa yang sebenarnya. Jawa yang nJawani.

Legawa, yang merupakan tingkat akhir dari skema di atas bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Kita bisa melakukannya. Jika disejajarkan dengan konsepsi kasih seperti yang ada dalam  Korintus, maka legawa disini memiliki tingkatan yang sama. Jelas ini adalah sebuah sabda. Pun dengan lagawa yang njawani. Keduanya sama. Sabda adalah hal yang diperuntukkan bagi umat, kawula, maka dari itu sabda tidak bisa dibalikkan kepada pembuatnya. Pembuat disini merujuk kepada Tuhan, pencipta alam semesta. Legawa, kasih yang sabar adalah sabda yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi nyata yang membutuhkan “pasinaon” lebih, sehingga hasil yang didapat benar-benar “kemenepan” dalam hidup.

Kita bisa melakukannya. Bahwa sabda itu bukan dikembalikan kepada penciptanya, tetapi harus kita implementasikan. Jelasnya, kedua hal itu bukan lagi tingkatan dewa yang sangat susah dilakukan oleh manusia macam kita semua. Kedua hal itu adalah sabda yang harus kita wujudkan dalam hidup kita, selamanya.

 

Roe: catatan kecil untuk ibuku

 IMG_20150518_160310

Roe: catatan kecil untuk ibuku

Hai, Cercil, apakah kau masih memakai celana dalam yang kemarin? Kau juga masih membuang sampah di dekat kaki mesin cuci? Ahh…. Cercil, berapa kali aku katakan, jangan lakukan itu. Hhh.. OK.. aku harus pergi sekarang. Aku harus mengejar bus. Satu jam lagi lagi aku harus sudah ada di sana.

Marc, berapa kali harus aku katakan bahwa aku mencintaimu. Aku terlalu mencintaimu, Marc. Apakah salah jika aku berharap terlalu banyak padamu? Aku sudah sangat letih dengan permainan ini. Katakan bahwa kau juga membutuhkanku, Marc.

Mom, maaf, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Mommy mungkin kecewa dengan semua tindakanku, tapi aku tahu ini yang terbaik. Jika sudah tiba saatnya, aku akan menceritakan padamu, Mom. Semuanya… Semuanya… Trust me, Mom. I love you..

Hai, Uncle Teddy, saat ini kau adalah orang yang paling sempurna dalam hidupku. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku tidak peduli dengan apa yang sudah kau perbuat pada Daddy-ku. Aku juga tidak peduli jika semua orang di luar sana mengklaim kau adalah sampah yang seharusnya dimusnahkan. Bagiku saat ini kau adalah cahaya.

Hhh…. Aku terbangun pagi ini dengan mata merah. Kepalaku penat. Mungkin aku terlalu banyak minum tadi malam. Aku meraih cermin di atas meja di sebelah tempat tidurku. Kupandang wajah yang dipantulkannya. Ahh…Orang mati saja tidak seburuk ini. Aku terlalu buruk pagi ini. Berantakan. Kuletakkan kembali cermin dan duduk di atas tempat tidur. Mataku memicing saat melihat ke luar jendela. Matahari pagi sudah tinggi.

Mungkin kalau aku tahu bahwa itu adalah matahari terakhir yang aku lihat, aku tidak akan berlama-lama di dalam kamar sialan ini.

***

Cercil, Marc, Mommy,Daddy, Uncle Teddy, dan aku, masing-masing mempunyai labirinnya sendiri. Labirin yang tercipta dari keruwetan sistem berpikir. Tidak perlu menjadi seorang arsitek atau planolog untuk menciptakan sebuah labirin. Semua orang mampu melakukannya. Dan labirin itu pun harus memiliki jalan keluar. Setiap labirin. Jika tidak ada jalan keluar, itu adalah sebuah lubang hitam atau palung yang menyedot semua unsur untuk masuk ke dalamnya tanpa bisa keluar lagi. Semua akan tenggelam, masuk, dan tidak pernah keluar lagi. Berubah menjadi entah, mungkin menjadi sesuatu yang tak terdefinisikan.

Cercil menciptakan labirinnya dengan cara berpikirnya. Pun begitu dengan Marc. Mungkin Mommy dan Daddy punya cara pandang yang berbeda dengan apa yang dimaksud dengan labirin. Uncle Teddy bisa saja tidak bijak ketika menyikapi keruwetan sistem berpikir yang dihadirkan dalam hidupnya. Dan aku tidak pernah tahu labirin mana yang sedang aku masuki. Aku bukan seorang game maker yang kemudian berkuasa mematikan musuh dengan rumus logaritma atau alogaritma. Aku pun terjebak dalam permainan yang entah siapa yang lebih dulu menciptakannya. Jika kemudian labirin ini dimaknai secara denotatif, maka yang terpercik dalam pikiranku adalah dua buah dinding tinggi yang berkelok, panjang, be-ruang, mempunyai ruang yang menyesatkan, dan penuh dengan jebakan. Jika konotatif, maka yang ada adalah hati dan pikiran yang semakin bruwet, ruwet, berputar-putar mencari jalan keluar, berlari, berjalan, menimbang.

Setelah sekian lama labirin itu menemukan titik terangnya. Mungkin bukan sebuah jalan keluar, tetapi paling tidak, ada celah untuk masuk udara yang lebih segar. Untuk membantu melanjutkan perjalanan ketika  persediaan oksigen di tubuh dan otak mulai menipis.

***

Cercil, kau harus mengganti celana dalammu. Berpikirlah lebih rasional ketika kau melakukannya. Bus yang aku tumpangi sekali waktu akan berhenti tepat di persimpangan dan membiarkanku naik dengan ceria, tanpa harus berlari mengejarnya dengan  terengah.

Marc, mungkin sudah saatnya aku berhenti mencintaimu, Kau bukan lagi mercusuar buatku. Aku bisa menegasikannya kepada bentuk yang lain. Ini bukan sebuah dekontruksi pikiran, Marc. Ini lebih pada penerimaan, betapa letihnya pikiran dan hatiku tergerus terus-menerus.

Mom, maaf, aku tidak bisa kembali. Akan lebih baik jika Mommy dan Daddy menjalin percintaan tanpa pikiran yang aneh-aneh. Percayalah satu sama lain, Mom, Dad. Jangan pernah mengharapkan apa yang sudah kalian lempar akan kembali. Tanpa ada orang lain yang balik melemparkannya kepada kalian, itu semua adalah bullshit.

Hai, Uncle Teddy. Ingatlah, bahwa suatu saat dengan keberanian dan kesadaran penuh, aku akan datang padamu. Menikammu dengan belati milik kakekku dan memuntirnya sampai pecah lambungmu. Bisakah kau berpikir lebih realistis, Uncle, bahwa semua ini adalah sebuah game? Both of us don’t know who is a game maker and who is a game player? Yang kita tahu, kita terjebak di dalamnya. Dengan membunuhmu semuanya selesai, Uncle.

Aku tidak perlu membuat perayaan atas kematian Uncle Teddy, atau berkumpulnya kembali Mom dan Dad-ku. Tidak perlu juga merayakan negasi atas rasaku kepada Marc, dan kembalinya rasionalitas yang dimiliki Cercil. Aku tidak perlu semua itu. Aku butuh tidur. Mataku sudah terlalu berat. Selamat malam, Semua…

karena benturan itu menguatkanmu…

Dan apa yang ada di depanmu sekarang, hadapilah.

Benturan itu menguatkanmu.
Percayalah, selalu ada jalan terang untuk sampai kesana.

Jika kemarin kau merasakan jatuh, bahkan terguling dan sakit, sekarang saatnya kau bangkit. Jangan kau larut dalam sakitmu. Jangan kau larut dalam sedihmu. Jangan kau nikmati lukamu. Tegakkan kepalamu. Berjalanlah dengan lurus dan kuat. Jalanmu masih panjang. Tidak terhenti hanya sampai disini. Sakit yang kau rasakan adalah pelajaran untuk kau menjadi lebih tangguh. Jatuh yang kau alami adalah pelajaran untuk kau menjadi lebih kuat. Percayalah, selalu ada tangan yang menopangmu. Selalu ada hati yang mengawalmu.

Kesedihan terdalammu adalah ketika melihat mereka jauh lebih baik tanpa dirimu. Kesedihan terdalammu adalah ketika melihat mereka bahagia tanpamu. Tetapi itu bukan alasan untuk kau tetap terpuruk dan menikmati kesakitanmu. Wake up!! Masih ada celah lain untuk kau masuk dan kembali kesana. Kembali untuk melihat nyala lentera yang bukan hanya membias tetapi nyata menerangi wajahmu.

Mungkin kau lupa, bahwa ada penopang yang selalu ada untukmu. Penopang yang tidak pernah lelah mengingatkanmu, menopangmu, menjagamu, bahkan melindungimu. Mungkin kau lupa, bahwa penopangmu tidak pernah berhenti memikirkanmu, selalu ada untukmu, bahkan disaat kau merasa buruk sekalipun. Dia ada untukmu, bahkan ketika kau sudah tidak sanggup untuk bangkit lagi. Mungkin kau lupa, Dia selalu nyata ada untukmu. Dia yang tidak pernah tidur. Dia yang tidak pernah mengeluh. Dia yang tidak pernah menuntut. Dia yang menuruti segala mintamu. Mungkin kau lupa, Dia begitu nyata ada dalam hatimu, jika kau mengijinnya-Nya tinggal disana.

Hadapilah apapun yang terjadi. Penolakan, kebencian, egoisme, kesombongan, penerimaan, permintaan maaf, ke-lapangandada, kerendahan hati, ke-jumawa-an, kesakitan, kebahagian orang lain, perasaan orang lain, kemunafikan, kenaifan, kecemburuan, rasa cinta. Apapun itu, hadapilah. Rasa itu tidak akan tumbuh di tempat yang salah jika kau tidak salah melemparkan benihnya, atau sengaja menanamnya. Seperti perumpamaan tentang iman yang tertulis di dalam alkitab, benih yang ada di tanah berpasir akan tumbuh baik pada awalnya, tetapi angin kencang menggoyangkannya dan mencerabut akarnya. Benih yang tumbuh di antara semak belukar akan tumbuh baik pada mulanya, tetapi semakin besar dia tumbuh, duri-duri semak belukar akan menghimpitnya dan menghalanginya mendapatkan sinar matahari dan kebebasan. Benih yang tumbuh di atas tanah berbatu akan tumbuh dengan penuh kekurangan. Tidak ada asupan yang sempurna untuk pertumbuhannya. Sedangkan benih yang tumbuh di atas tanah subur gembur akan tumbuh menjadi tanaman yang kokoh, sehat, kuat, dan berbuah banyak. Jika kau adalah petaninya, tanah mana yang akan kau percayai untuk kau tanami? Dan imanmu akan menuntun rasamu. Menuntunmu untuk tidak salah melemparkan benih.

Pada akhirnya, imanmu-lah yang menguatkanmu. Imanmu-lah yang memaksamu, dalam arti positif, untuk menghadapi segala sesuatunya. Iman itulah yang memberimu kekuatan untuk kau bangkit dan melihat ke depan. Jalan di depanmu masih panjang, luas, berduri, bersemak, berbatu, berangin, ber-aral rintang. Dengan kata lain, benturan yang kau dapatkan adalah permulaan dari jalan terang yang akan kau raih nantinya. Percayalah bahwa Dia selalu ada untuk menopangmu, mengawal hatimu, penjadi penjagamu dan pelepas dahagamu.

Seberat apapun, melangkahlah. Tinggalkan sakitmu disini agar kau bisa menari disana nanti. Eratkan tali pinggangmu agar kau mampu berjalan lebih jauh. Buka matamu agar kau tidak lagi tersandung dalam terang ataupun gelap. Buka telingamu agar kau mampu mendengar, suara yang terlirih sekalipun. Jaga agar hidungmu tetap bisa membaui apa yang seharusnya kau baui. Jaga mulutmu agar tidak mengeluarkan suara yang mengganggu. Jaga hati dan pikiranmu agar kau tetap fokus pada tujuanmu.

Dan apa yang ada di depanmu sekarang, hadapilah.

Benturan itu menguatkanmu.
Percayalah, selalu ada jalan terang untuk sampai kesana.

Percayalah, kau mampu melakukannya. Cobalah, kau akan bisa.

PenJaga Hati

Pernah melihat orang menggembalakan kambing/ domba atau bebek? Apa yang para gembala itu lakukan? Kemana para gembala akan membawa hewan gembalaannya? Para gembala itu akan mengarahkan kemana gembalaannya berjalan. Apakah akan lurus mengikuti jalan atau berbelok dan menceburkan diri mereka ke dalam sungai atau kolam? Pernah melihat juga bagaimana para gembala itu memberi makan gembalaannya? Membelai mereka atau cara memasukkan dan mengeluarkan mereka dari kandang?

Para gembala akan menuntun gembalaannya dengan penuh cinta kasih. Kalaupun mereka berteriak itu lebih pada usaha untuk menjaga agar gembalaannya tidak out of track. Para gembala akan membawa tongkat kayu untuk menghela dan mengarahkan kemana arah yang akan dituju oleh gembalaannya. Selain itu, para gembala juga akan menjaga gembalaannya dari serangan binatang jahat lainnya, atau apapun yang akan membahayakan gembalaannya. Dengan kata lain, para gembala akan benar-benar menjaga gembalaanya dengan sepenuh hati, bahkan dengan nyawanya sendiri, dan selalu berusaha agar mereka selalu on track.

Para gembala ini melakukan pekerjaannya, jika ini dianggap sebagai pekerjaan, dengan sepenuh hati. Tidak ada keinginan lebih dalam hati mereka kecuali melihat gembalaannya lebih sehat, lebih lincah, lebih bahagia, tidak stress. Mereka, para gembala, akan melakukan apapun agar gembalaannya selalu save. Bahkan jika itu mengancam nyawanya. (Mungkin ini adalah contoh yang ekstrim dari para gembala ya? Karena tidak semua gembala bisa dan mampu melakukan hal ini, seperti yang aku tuliskan.)

Seperti halnya kamu, bagaimana kau menjagaku dari segala hal yang membuatku jatuh, terjerembab, tersungkur, sampai mati rasa. Kamu selalu ada untukku. Kamu selalu ada ketika aku membuka mata, ketika aku membutuhkan pegangan, ketika aku membutuhkan semangat. Kamu selalu ada dan bisa mengarahkanku kembali on track, ketika aku berpikir bahwa aku sudah out of track. Kamu selalu menjadi reminder-ku, bahkan ketika aku mulai melupakanmu. Kamu selalu menjadi penghangatku, bahkan ketika aku menjadi sangat dingin kepadamu.

Kamu selalu menjadi pemecah dinding es yang kubangun perlahan dalam hidupku. Dinding es yang menjadi barrier dalam hidupku. Dinding es yang kupikir selalu bisa melindungiku, membentengiku dari kerasnya hidup. Kau, dengan perlahan, memecahkannya untuk selalu dapat menghangatkanku.

Terimakasih sudah mengingatkanku. Terimakasih sudah menjadi penjagaku. Terimakasih sudah  menjadi bentengku, bahkan ketika aku menjadi bias. Bahkan ketika aku berpikir bahwa aku selalu berjuang sendiri. Bahkan ketika aku selalu menikmati kesakitan dan menikam jantungku. Kamu selalu ada, dengan cara-caramu yang paling tidak terduga.

Darimu aku belajar banyak hal. Belajar bagaimana tentang egoisme, tentang kerendahan hati, tentang rasa, tentang batu, tentang rasa nyaman, tentang kehangatan, tentang dinding es yang kini mulai runtuh, perlahan.

Kamu yang selalu ada dengan cara-caramu sendiri, yang selalu ada dengan cara yang lain dari yang lain, yang selalu tidak terduga, lembut dan keras dalam waktu yang bersamaan. Kamu  yang selalu…aahhhh… banyak lagi yang tidak bisa kutuliskan tentangmu. Bukan…Bukan karena aku melupakannya, tetapi karena aku tidak bisa menyebutkan segala kebaikanmu satu per satu.

Terimakasih untuk separuh perjalanan hidupku ini. Semoga kau selalu menjadi penjagaku, penjaga hatiku, sampai aku tertatih dan mati, nanti. Semoga kau tidak pernah bosan mengingatkanku untuk selalu on track. Semoga kau tidak pernah lelah mengajarkan segala hal positif dalam hidup untuk bekalku nanti. Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk rasa cinta yang tidak pernah habis dan selalu tumbuh setiap harinya. Terimakasih untuk segalanya, Penjaga Hati-ku.

Terimakasih.