To be an Actor

DFG GKI NGUPASAN

Kamis, 12 Oktober 2017

Materi: Mengenali dan mempersiapkan tubuh untuk akting, topeng netral, dan topeng emosi.

Dalam sebuah pertunjukan teater tokoh menduduki peranan penting, antara lain sebagai peniru, pembawa watak, pembawa pesan cerita, dan sebagai “tangan kanan” penulis naskah. Sebagai peniru, aktor harus dapat meniru karakter tokoh, dalam hal ini termasuk gambaran modern tentang identifikasi intelektual dan kegelisahan eksistensial. Sebagai pembawa watak, aktor haruslah dapat melakukan peleburan dan peresapan yang melibatkan fungsi fisik dan psikologis untuk membawakan watak tokoh. Sedangkan yang dimaksud dengan tangan kanan penulis dan pembawa pesan cerita adalah posisi aktor harus mampu membawakan pesan dari penulis, dalam hal ini adalah pencipta karakter masing-masing tokoh yang diaplikasikan di atas panggung dan disampaikan kepada penonton sebagai penerima pesan. 

Aktor harus melakukan latihan untuk bisa bertindak sebagai peniru, pembawa watak, pembawa pesan, dan tangan kanan yang kemudian disebut sebagai penciptaan karakter baru. Ada beberapa tahapan latihan yang dilakukan aktor untuk menciptakan karakter baru. Pada latihan kali ini dimulai dengan pengenalan terhadap tubuh dan bagaimana menciptakan emosi tokoh. 

  • Mengenali dan mempersiapkan tubuh untuk akting.

Tubuh manusia berbeda antara satu dan lainnya. Kita diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Sebelum masuk ke dalam akting sebagai tokoh, kita harus mengenali dan mempersiapkan diri kita terlebih dulu. Seringkali kita melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak kita sadari, entah itu cara berjalan, cara duduk, cara bicara, bahkan kebiasaan tidur. Kebiasaan-kebiasaan ini harus kita perhatikan detailnya. Apakah nantinya akan mengganggu peranan kita sebagai tokoh atau malah mendukungnya. Selain itu, kita juga harus detail memperhatikan diri kita baik secara fisik, psikologis, maupun sosiologis. Setelah betul-betul dipahami maka hal-hal tentang diri kita nantinya harus diisolasi atau disimpan rapat agar tidak muncul ketika kita berakting. Isolasi diri juga bisa dibantu dengan cara meditasi. Menenangkan pikiran dan merilekskan otot-otot tubuh adalah salah satu cara untuk mengisolasi tubuh dan pikiran agar siap masuk ke dalam karakter tokoh.   

  • Topeng Netral

Yang dimaksud dengan topeng netral adalah kondisi dimana aktor atau pemeran ada dalam posisi siap untuk dimasuki peran. Posisi ini tidak diintervensi/diganggu oleh “aku diri” atau netral. Siap dalam pengertian perangkat keaktorannya sudah terlatih dengan baik dan disiapkan untuk mengakomodir karakter-karakter baru. Tubuh aktor disini diibaratkan seperti gelas kosong. Gelas kosong berfungsi sebagai wadhah yang siap menerima isian, apapun bentuk isiannya. Dengan kata lain topeng netral adalah kondisi tubuh diantara diri sebagai aktor dan diri sebagai tokoh. 

  • Topeng Emosi

Topeng emosi adalah inner action yang dikeluarkan melalui emosi. Dalam hal ini pencurahan konsentrasi tubuh dan pikiran kepada frase dan topeng wajah. Emosi yang biasa dikenal ada lima, yaitu marah, gembira, sedih, takut, dan gelisah. Setelah tubuh berada dalam kondisi netral maka akan dengan mudah memasukkan emosi-emosi tokoh yang diciptakan. Pada latihan kali ini ada tiga emosi yang dicoba, gembira, sedih, dan gelisah. 

Proses latihan dimulai dengan pengenalan kembali kebiasaan yang dimiliki oleh peserta latihan. Oiya, latihan kali ini dihadiri 4 orang, Anggia, Silvi, Arum, dan Obed. Menyusul kemudian Sofyan, tetapi setelah beberapa saat dia undur diri karena jadwal yang tabrakan dengan jadwal latihan musik. Kebiasaan-kebiasaan yang seringkali kita acuhkan, abaikan, bahkan dilakukan secara reflek kembali ditinjau dan diperhatikan sungguh-sungguh. Anggi mempunyai kebiasaan merilekskan buku-buku jari tangannya sampai berbunyi “kluk/klek”. Silvi mempunyai kebiasaan memainkan helaian rambut di atas dahi ketika sedang bosan. Arum sering menyilangkan tangan di depan dada (sendhakep). Entah apa kebiasaan Obed. Dia datang terlambat sekitar 15-20 menit sejak dimulainya latihan. 

Saya meminta teman-teman berjalan santai sambil memperhatikan bentuk kaki, tangan, badan, sampai wajah. Bagaimana detail-detail bagian tubuh yang mereka miliki. Bentuk kaki, ruas-ruas jari kaki, ruas-ruas jari tangan, betuk wajah, hidung, pipi, bahkan telinga yang tidak dapat dilihat tanpa menggunakan cermin. Ketika mereka mengenali kembali bagian tubuh masing-masing, saya meminta untuk memunculkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan. Gabungan keduanya menumbuhkan konsentrasi kuat bagi mereka. 

Beberapa saat setelah melakukan pengenalan terhadap tubuhnya kembali, mereka saya minta untuk menceritakan bagaimana ketubuhan yang mereka miliki. Masing-masing kemudian menyadari bahwa tubuh mereka ternyata unik. Keunikan dan kebiasaan inilah yang kemudian dismpan, diendapkan. Dalam bahasan untuk keaktoran istilah penyimpanan ini sering disebut sebagai isolasi diri. Isolasi diri atau isolasi personal adalah upaya untuk menyimpan identitas personal kita dan memunculkan atau memaksimalkan bagian lainnya, dalam hal ini adalah tokoh baru yang akan diciptakan. Setelah melakukan isolasi diri, tubuh kita akan berada dalam posisi netral atau kosong. Inilah posisi tubuh yang disebut topeng netral.Pada posisi ini tubuh seperti gelas kosong yang siap diisi dengan apapun. Akan disebut segelas teh jika gelas kosong tersebut diisi dengan teh. Akan disebut segelas kopi jika gelas kosong itu diisi dengan kopi.  Isian inilah yang kemudian membuat penonton bisa “membaca” topeng yang dimaksud. 

Topeng emosi adalah langkah selanjutnya. Saya meminta mereka untuk saling berpasangan. Anggi memilih berpasangan dengan Silvi, Arum berpasangan dengan Obed. Sebelum mencoba topeng emosi, saya mengingatkan kembali emosi-emosi dasar yang biasa dipelajari. Mereka memilih untuk menggunakan topeng emosi gelisah terlebih dulu. Setelah bergantian mempraktekkan emosi gelisah, mereka lanjut ke topeng emosi sedih. Pilihan ketiganya adalah topeng emosi gembira. Mereka memilih kekontrasan yang diciptakan emosi sebelumnya. Masing-masing pasangan saling mengoreksi dan memberi pendapat atas emosi ciptaan pasangannya. 

Emosi yang diciptakan tidak serta merta muncul. Ada karakter diri yang saya minta untuk diikutsartakan dalam penciptaan topeng emosi ini. Bukan berarti mereka tidak lepas dari ke-dirian-nya, tetapi lebih kepada memudahkan tahapan, dengan catatan; sebagian besar ke-dirian-nya disimpan atau diisolasi dengan baik. Ke-dirian-nya tidak dimunculkan semuanya. Ada sebagian yang diendapkan atau diisolasi, sehingga akan memunculkan dan memaksimalkan bagian tubuh lainnya, terutama wajah. Latihan kali ini ditutup dengan PR dua topeng emosi yang akan diulas dan dicoba pada pertemuan selanjutnya. 

Berikut adalah pengalaman teman-teman DFG setelah mengikuti latihan.

Obed: Saya ikut kelas DFG di GKI Ngupasan. Hari ini kami belajar materi tentang topeng netral. Hari ini saya belajar unutk mengenali potensi dan kebiasaan diri saya. Bagaimana saya dengan postur yang tinggi dan langkah kaki yang besar cenderung untuk jalan dengan berat. Kebiasaan saya untuk menyentuh hidung atau menggaruk-garuk kepala. Saya jadi paham bahwa hal ini perlu dikenali supaya ketika bermain topeng peran sifat ini tidak keluar. 

Saya juga belajar mengenali emosi teman saya dan belajar menunjukkan emosi. Ada riga emosi yang saya dan teman-teman coba, yaitu gelisah takut, dan gembira. Memunculkan emosi perlu didorong dengan alasan. Ketika bermain peran, perlu memikirkan alasan kenapa kita merasa gelisah, takut, dan gembira. Tetapi peraaan ini adalah peraaan yang kita bangun bukan yang keluar dari keaslian kita. Ternyata setiap emosi memiliki cir-ciri dan gerak-gerik yang berbeda-beda yang cenderung mirip pada kebanyakan orang. 

Sebuah pelajaran yang menyenangkan sekali dan tidak sabar untuk melanjutkannya. 

Anggi: Yang aku dapat dari kelas pertemuan teater itu yang pertama; belajar mengenali diri sendiri.Yang biasa aku lakukan, yang disadari atau ga disadari. Terus gimana caranya buat mengenali kebiasaan kita sendiri? Gimana mengatasi kebiasaan yang suatu saat harus diisolasi dan jangan sampai kebiasaan kita itu mengganggu atau melenceng dari peran yang kita perankan. Gimana caranya kita mengekspresikan setiap perasaan yang kita selalu rasakan, meski diatas panggung, diatas skenario yang sudah ditentukan tapi harus terllihat natural.  

Silvi: Di kelas hari ini aku dapat pelajaran banyak banget. Nggak nyesel deh buat datang hari ini. Hari ini aku menyadarai dan jadi tahu tentang kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam diriku. Mesikpun dulu aku belum tahu, namun kelas ajaran Kak Joan tadi benar-benar membuat aku sadar tentang kebiasaan yang tidak aku sadari. Misal cara berjalan yang ternyata beda dari yang selama ini aku bayangkan. Jari kaki dan tangan yang ternyata bunteg. Menyadari pula wajah yang aku miliki. Kebiasaan-kebiasaan yang ternyata sering aku lakuin baik yang aku sadari ataupun tidak. Dan yang lebih menarik lagi aku diajari tentang akting. Bagaimana mengisolsi diri, menghilangkan sebagian kebiasaan yang kumiliki, berusaha untuk menjadi tokoh lain, menjauhkan dari kedirianku, serta menyediakan tempat untuk jiwa yang baru dan yang akan diisi ketika akan bermain peran nantinya. Aku diajari bagaimana untuk berekspresi gelisah, sedih, dan bahagia. Masing-masing dari kami saling berpasangan, dimana salah satu melakukan dan yang lain mengamati. Ternyata bahwa dengan cara yang seperti ini, membuat kita bisa menilai orang lain hanya dengan melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya serta gerak-gerak sederhana lain, yang sebenarnya artinya mendalam. 

Pokoke is the best lah buat materi berharga hari ini. Semoga suatu saat nanti aku benar-benar bisa melepas semua kedirianku dan juga benar-benar menjadi tokoh sesuai dengan peran yang ada dengan melakukan isolasi dahulu baik sebelum ataupun sesudahnya.

Kezia Aroem: Materi yang disampaikan secara keseluruhan sangat berguna untukku. Aku semakin tahu kalau nggak hanya orang lain saja yang butuh dikenal dan diperhatikan, tapi juga tubuh kita sendiri. Semakin kita mengenal tubuh kita sendiri semakin kita paham kompetensi yang ada dalam diri kita. Bahkan juga kenal kelemahan dan kebiasaan buruk yang ada di diri kita. “Belajar teater itu bukan sekedar untuk mengenali peran di dunia panggung, tetapi juga untuk memainkan peran di tangah masyarakat. Tanpa mempelajari tubuh dan karakter diri sendiri, orang akan sulit mengenal peran yang akan dimainkan.

Iklan

BA DUA JIN: 8 PERNAPASAN SHAOLIN

Mencari  magnetisme dalam tubuh aktor

(latihan hari Rabu, 4 Oktober 2017)

Tulisan ini juga bisa diakses melalui http://www.whanidproject.com

Trep dan Deg (kebertubuhan yang sempurna)

Dalam bahasa Jawa ada istilah trep dan deg. Trep memiliki arti pas, sesuai, sedangkan deg dari kata dedeg yang berarti diri atau tubuh. Kata deg juga bisa diambil dari kata adeg-adeg yang berarti alat untuk berdiri. Dalam praktiknya kata trep dan deg biasanya diucapkan menjadi satu menjadi trep deg. Trep deg ini adalah tembung saroja yang berarti dua kata yang digabungkan menjadi satu tanpa mengurangi makna dari masing-masing katanya. 

Kata trep deg dalam proses latihan magnetisme ini lebih merujuk kepada sikap tubuh aktor. Kesempurnaan tubuh dalam bersikap (sebagai aktor). Saya menangkapnya seperti itu. Semoga tidak salah. Mas Whani menekankan trep deg sebagai kebertubuhan/ keber-diri-an yang sempurna. Aktor sendiri membutuhkan adeg-adeg atau alat untuk berdiri agar dedeg-nya/tubuhnya bisa trep/sempurna. Proses latihan dilakukan  sebagai dasar-dasar untuk menciptakan kesempurnaan tubuh aktor atau trep deg bagi aktor.  Jadi pada dasarnya proses latihan adalah adeg-adeg bagi trep deg seorang aktor. 

Rabu sore kami berlatih teknik dasar keaktoran di Omah Kebon, Nitiprayan. Latihan kali ini dihadiri 5 orang peserta dengan Mas Whani Darmawan sebagai mentornya. Pada sesi latihan kali ini kami mendapat materi pernapasan, lebih tepatnya dasar latihan pernapasan untuk Shaolin. Ba Dua Jin (https://m.youtube.com/watch?v=6Zn_d2D15Q4),  begitu telinga saya menangkapnya. Entah penulisannya benar atau tidak. 

Sebelum masuk ke dalam teknik, Mas Whani selaku mentor mengajarkan bagaimana cara mengatur pernapasan dan memanagenya. “Bernapas dengan perlahan, mata menatap pada satu titik. Ulangi sampai sembilan kali hitungan.” Begitu instruksinya. Kami melakukannya, Mas Whani mengecek apakah pernapasan yang kami lakukan sudah benar atau belum. Setelah selesai, beliau menambahkan bagaimana cara menahan napas dan menyimpannya sebagai bentuk energi. “Tarik napas, simpan dalam perut. Hembuskan dan suarakan perlahan. Menatap pada satu titik dan menyuarakan hembusan napas akan membantu kita untuk focusing.” Penyimpanan napas ini ditumpukan pada perut bagian bawah, tepatnya pada titik tiga jari di bawah pusar. Saya menyebutnya titik fokus, karena udara dan energi difokuskan disini. (Penyebutan ini lebih kepada pemudahan dalam mengingat saja.) Masih sama, hitungan pada latihan ini juga diulangi sebanyak sembilan kali. 

Tahap selanjutnya adalah latihan pernapasan untuk Shaolin. Ada tiga tahapan yang diajarkan pada pertemuan kali ini, dimulai dari tahapan sederhana. 

  • Menggayung air telaga

Gerakan tahap ini gerakannya adalah tubuh berdiri tegak, kaki lurus, badan rileks, pandangan ke depan menatap pada satu titik. Tangan di samping tubuh, diangkat perlahan melewati perut sambil menautkan jari-jemari. Bersamaan dengan mengangkat tangan, kita menarik napas. Tepat di depan wajah (posisi tautan jemari tangan menutupi mulut dan hidung) otot tangan, lengan diregangkan. Disini kita harus menahan napas. Udara disimpan di titik fokus sehingga membentuk energi. Napas dihembuskan sembari tangan diturunkan perlahan. Gerakan ini diulangi tanpa putus sampai sembilan kali. Ketika melakuakn latihan ini usahakan untuk tidak berkedip, kecuali ketika mata terasa begitu panas.

  • Menyangga langit, Menekan bumi

Tubuh berdiri tegak, rileks, kaki lurus, pandangan menatap pada satu titik. Tangan diangkat ke atas sambil menarik napas. Gerakan dilakukan perlahan sambil mendorong tubuh ke belakang sampai batas maksimal tanpa menekuk kaki. Kemudian tangan mendorong ke atas sekuat tenaga, seperti gerakan menyangga sambil menahan napas. Udara disimpan pada titik fokus. Penyimpanan ini akan menarik otot kaki, pinggul, panggul, dan otot perut sehingga menyebabkan kekencangan otot. Napas dihembuskan sembari tangan diturunkan sampai bumi. Tepat di depan kaki. Ketika menghembuskan napas, ada energi yang ditekankan pada bumi, sehingga otot-otot saling bersinergi dan kembali lemas. Kembali menarik napas, tangan diangkat sampai di depan dada dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, kemudian hembuskan perlahan. Gerakan ini diulangi tanpa putus.

Memanah rajawali

Pada bagian ini ada tambahan gerakan untuk meningkatkan konsentrasi. Kaki pada posisi kuda-kuda, tangan kanan di samping tubuh diangkat sambil menarik napas. Mata menatap pasti pada ujung jari tengah tangan kanan. Posisi telapak tangan lurus. Tangan dibawa ke depan. Ketika tangan kanan sampai di depan tubuh, tangan kiri bergerak ke arah siku tangan kanan bagian luar. Telapak tangan kiri menghadap keluar. Gerakan ini dilakukan sambil menghembuskan napas. Pada titik ini pandangan mata berpindah dari ujung jari tengah tangan kanan ke ujung jari tengah tangan kiri. Kembali menarik napas, tangan kanan ditarik ke belakang (ke kanan) sampai sejajar ketiak dan tangan kiri didorong ke kiri sampai batas maksimal. Pada bagian ini otot tangan diregangkan, kuda-kuda kuat, energi disimpan dititik fokus. Napas dihembuskan, tangan diturunkan. Gerakan ini diulangi bolak-balik, kanan-kiri. 

Setelah melakukan tiga tahapan latihan ini, kami kemudian meditasi. Kaki bersila, badan rileks, napas diatur, pikiran digiring untuk tenang. 

Ada satu kalimat dari Mas Whani, semoga saya tidak salah ingat, “Jangan membohongi tubuh. Jujurlah pada tubuh.” Tentunya kalimat ini ditujukan pada kami yang seringkali tersengal ditengah latihan pernapasan yang tanpa henti tersebut, meskipun durasinya sangat pendek. Pada beberapa bagian kami memang kewalahan. Saya mengakui juga merasa kewalahan ketika harus membagi konsentrasi antara gerak, pandangan mata, dan kesempatan untuk menarik dan menghembuskan napas. Otak dipaksa untuk berpikir, memilah gerakan, mengira-ngira gerakan dan napas yang kadang tidak bersinergi. Pada bagian ini kemudian muncul kecurangan yang tidak terduga, bernapas disela-sela tahapan pernapasan. Ketika menyadari hal itu otak saya memaksa tubuh untuk kembali fokus pada latihan pernapasan. Ini seperti mencuri waktu ketika berada di atas panggung. 

Jujur pada tubuh dimaksudkan untuk melatih konsentrasi dan disiplin pada tubuh kita. Seringkali kita mencurangi tubuh baik disengaja maupun tidak. Kecurangan-kecurangan ini pada akhirnya akan menumpuk dan menyebabkan tubuh kita mudah sekali untuk berbohong. Antara otak dan tubuh menjadi tidak terkoordinasi. Padahal dalam teater, terutama posisi aktor, kesadaran penuh akan tubuh sangatlah penting. Latihan pernapasan ini adalah salah satu langkah untuk mendisiplinkan tubuh dan pikiran kita. Seperti halnya Tadashi Suzuki yang diajarkan Mas Jamaludin Latief pada pertemuan sebelumnya, latihan pernapasan untuk Shaolin ini juga memiliki manfaat yang sama. 

Kejujuran dalam latihan  ini kemudian akan membentuk kedisiplinan tubuh aktor. Sedikit demi sedikit ada disiplin baru dalam tubuh aktor yang disadari perlahan sejalan dengan proses yang dilakukan. Dengan kata lain akan ada kenyamanan baru yang dibentuk tubuh sehingga menciptakan kesempurnaan. Disinilah kemudian trep deg bagi aktor dihasilkan. 

Di dalam bulan abu-abu wajahku merindumu

Setelah sekian purnama, wajahmu kembali membayang.

Kau berada diantara mega dan rembulan merah jambu. Senyum mu mengembang, menjelajah lautan angkasa. Tanganmu membelai jajaran awan putih yang menggantung disana.
Kau merindukan bumi, Sayang?

Menunduklah sejenak. Aku sedang menari di depan api unggun. Dengan gendang yang bertalu, ku jentikkan jemariku. Mendongakkan kepalaku sesekali sambil mencuri wajahmu diantara mega dan rembulan merah jambu. 

Gelang kakiku gemerincing menjejak bumi. Tidakkah kau mendengarnya? Ini adalah suara indah kala kita menari bersama. 

Ku ingat, kau memasang gelang kaki dan menuntun tanganku untuk menari. Pinggul kita bersentuhan. Tawa terderai. Lepas. Selendang hijau tua itu kau kalungkan di leherku. Kau tarik kuat, dan aku pun jatuh d pelukanmu. 
Ingatkah kau, Sayang?

Di bawah matahari sore kau menggendongku menyusuri sungai kecil berwarna biru. Kau sematkan bunga bakung di antara kepang rambutku. Bibirmu berwarna oranye kala itu. Dan aku tidak bisa menahan diri untuk tak melumatnya. 
Ingatkah kau, Sayang?

Di bawah langit hitam dan hujan deras, kau berlari jauh di depanku. Berhenti di atas rumput basah dan melambaikan tanganmu. Senyum mu terkembang, saat ku berlari untuk memelukmu. Kau katakan, “Aku seperti berdiri di depan perapian.” 
Jangan lupakan kenangan itu, Sayang. Jika kau merindukanku, menunduklah sejenak. Tepiskan mega dan jatuhkan warna merah jambu dari rembulan di depanmu. Aku ada di dalam pucatnya rembulan abu-abu. Dekatkan wajahmu,  pandanglah aku. Di dalam bulan abu-abu wajahku merindumu.  

PAALGUNII

Perempuan bergaun panjang memegang toy box. Toy box berputar dengan gantungan wayang putri, rajah, segenggam padi dan batangnya, dan genta. Perempuan ini berdiri menghadap penonton. 
“Aku bukan dongeng. Aku adalah apa yang kau lihat. Yang kau rasakan. Yang kau dengar. Aku adalah dirimu.”
Perempuan bergeser. “Namaku Taara. Aku adalah putri Prabu Dipa Sekethi. Ibuku, Dewi Wijayanti. Bukan tanpa alasan orangtuaku memberiku nama Taara. Bagi mereka, aku adalah bintang.”
“Suamiku, Sang Prabu Aji Jayabaya yang bijaksana. Dia tampan dan gagah perkasa. Kami dikaruniai tiga putra dan seorang putri. Hidup kami sangat bahagia. 
“Menjelang malam kugendong putriku. Atlantis namanya. Kubuai dia dalam dekapanku.”

Bersenandung… Menembang… 
“Ibu, lihatlah keluar jendela. Ada sepasang mata merah sedang menatapku,” katanya ketakutan. 
“Tidurlah, Sayang. Tidak ada siapapun yang berani mengusik putri Prabu Aji Jayabaya. Ayah dan kakak-kakakmu sedang berjaga di luar sana. Tidak akan dibiarkannya seorang pun mengganggu putri dan dinda kesayangannya.”
“Ibu, kepalanya sebesar lubang hitam di angkasa. Aku takut, Ibu!! Dia mendekat, Ibu… Usirlah dia, agar tenang tidurku!! Ibu… Ibu..!!”
Dewi Taara masih menembang 
“Bagaimana aku bisa tidur tenang jika matanya menembus jantungku, Ibu? Siapakah dia?” 
Mantra tolak bala digumamkan. Dewi Taara mengusir sepasang mata pengganggu putrinya. 
Seorang bocah terbangun dari tidurnya. Matanya mencari-cari Ibunya.

“Simbok… Simbok… Simbok”
Bocah mendapati boneka jeraminya tergeletak, digendongnya sambil terus mencari Ibunya. 

“Simboookk…. Wayah surup malah lunga!! Simbok…!! Aku gething karo Simbok!! Ben..Simbok ben dipangan Thithok Kerot!!”
Boneka dibakar, apinya membesar. Dari balik kobaran api muncul sosok raksasa menakutkan dengan taring tajam. Thothok Kerot namanya. 
“Jayabaya, kau terlalu sombong sebagai lelaki!!! Terlalu angkuh sebagai manusia!! Kau tolak cintaku!! (Cukupkah Dewi Taara sebagai istrimu?) Aku bisa memberimu lebih dari sekedar Dewi Taara!!”
Thothok Kerot mengamuk. Jayabaya muncul 

“Thothok Kerot, ini janji seorang ksatria. Kau dan aku akan bertemu pada keturunan ke tujuh!!!
Dewi Taara murka. 

“Jayabaya!!!! Aku tidak terima, selamanya manusia tidak akan bersanding dengan raksasa!!! Setiap anak manusia akan merapalkan mantra tolak bala mengutuk engkau, Thothok Kerot!! Thothok Kerot, terkutuklah engkau!!”
Bibirnya komat-kamit membaca mantra. 

“Setiap anak manusia akan merapalkan mantra tolak bala. Setiap anak manusia akan merapalkan mantra tolak bala. Setiap anak manusia akan merapalkan tolak bala.”
Dewi Taara merapal mantra tolak bala. Dia berkeliling, menghilang dikerumunan. Tinggal mantranya bergema memecah angkasa. 

PRIBADI KOMPETITIF

Lomba atau kompetisi adalah hal yang paling sering menggelitik hati para orang tua. Banyak anak-anak yang diikutkan dalam lomba karena ekspetasi para orang tua yang menginginkan mereka menjadi juara. Tanpa disadari tindakan yang mereka lakukan seringkali membuat anak-anak menjadi sangat kompetitif. Meskipun beberapa orang tua cukup cerdas memilih lomba atau kompetisi apa yang harus diikuti, tetapi tidak sedikit juga orang tua yang memaksakan kehendak mereka sendiri. 
Menjadi pribadi yang kompetitif perlu ditanamkan sejak dini. Anak-anak dikenalkan pada banyak hal yang berbau kompetisi. Semisal, anak ditantang untuk melipat selimut dan membereskan tempat tidur selama satu minggu. Atau, anak ditantang untuk menghabiskan makan siangnya. Dan orang tua menyiapkan hadiah atas tantangan tersebut. Hadiah yang diberikan bermacam-macam, bisa traveling atau jalan-jalan, bisa buku baru, seperangkat alat mewarnai, mainan, pujian, atau yang lainnya. Hadiah diberikan jika si anak mampu menyelesaikan tantangannya. Dengan mengenalkan kompetisi sejak dini, anak-anak diharapkan mampu bersaing ketika keluar dari zona nyamannya (dalam hal ini rumah).

Pengenalan kompetisi pada anak sejak usia dini harusnya juga diimbangi dengan pengertian-pemahaman yang diselipkan pada setiap tantangan yang diberikan. Orang tua harus mencatat bahwa tantangan yang diberikan tidak berbahaya; mampu meningkatkan kemampuan anak, baik motorik maupun kognitifnya; dan ada konsekuensi yang ditanggung dari tantangan yang diberikan. 

Para orang tua baiknya mengingat beberapa hal ketika memutuskan mengikutsertakan anak-anaknya ke dalam sebuah kompetisi atau lomba. Hal-hal yang perlu diingat adalah sebagai berikut;

1. Arti kompetisi; Orang tua perlu menjelaskan dan memberi pengertian tentang makna kompetisi kepada anak. Dengan mengenalkan dan memberikan makna kompetisi pada anak, diharapkan nantinya anak-anak dapat bersaing sesuai dengan arti sebenarnya dan mereka mempunyai dasar atas kompetisi yang mereka ikuti.

2. Berani; Anak diharapkan untuk lebih berani dalam menghadapi persaingan yang berlangsung. Mereka dituntun untuk menjadi berani dan tidak rendah diri. Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak dengan menyulut keberanian mereka.

3. Sportif; Ketika anak-anak sudah mengerti arti kompetisi dan berani untuk bersaing, tanamkan sikap sportif pada dirinya. Sikap sportif ini antara lain tidak melakukan kecurangan dalam bentuk apapun. Belajar untuk jujur dan menghargai usaha dan kejujuran teman lainnya. Sikap sportif yang dibangun sejak dini akan memberikan pengaruh positif pada karakter anak. 

4.Fokus; Melatih anak untuk fokus pada kompetisi yang dijalani. Menuntun mereka untuk belajar konsentrasi pada hal yang telah dipilih. Ketika anak-anak konsentrasi pada kompetisi, mereka akan bekerja keras untuk meraih apa yang dicitakan dan bertanggungjawab pada pilihannya. Anak-anak cenderung terpengaruh pada lingkungan, teman, hal lain yang lebih menggoda pikiran mereka. Dan tugas orang tua adalah menuntun mereka untuk tetap fokus pada kompetisi yang diikuti. 

5. Konsekuensi; Peserta yang mengikuti sebuah kompetisi haruslah paham akan konsekuensi yang akan ditanggung dibelakang. Tidak semua kompetisi memberikan dampak positif bagi pesertanya. Konsekuensi dari mengikuti kompetisi ini harus dipahami oleh orang tua dan anak-anak peserta kompetisi. Tentunya bertanggungjawab pada konsekuensi yang diterima. 

Setiap orang tua selalu ingin anaknya menjadi pemenang dalam setiap kompetisi atau lomba. Mereka akan mencoba banyak cara supaya anak-anak mereka dapat keluar menjadi juara. Minimal, perhatian. Seringkali para orang tua lupa hakikat kompetisi, bahwa menang atau kalah adalah bonus dari kerja keras. Memberikan pengertian menang dan kalah juga penting. Sebuah kompetisi digelar memang bertujuan untuk mencari pemenang. Tetapi tidak ada salahnya kita, sebagai orang tua, memberikan pengertian bahwa menang dan kalah adalah bonus atau sampingan dari tujuan mulia sebuah kompetisi itu diadakan. 

Sudah saatnya mengajarkan dan menanamkan positivisme pada anak-anak supaya mereka tumbuh menjadi generasi pemenang yang kompetitif. Generasi pemenang yang mengerti dan paham arti kompetisi (sehat) kemudian melakukan dan menjalankannya dengan baik. 

XXX

Percayalah, kau akan menjadi besar pada saatnya. Nikmati yang kau dapat hari ini. Jika itu adalah bagianmu, syukurilah. Jika itu milikmu, gunakanlah, selagi itu tidak menjadikan timpang. 

Belajarlah membuka mata dan telinga. Jangan lupakan pikiran dan hati untuk selalu menyelaraskannya. Bahwa yang kau lihat dan dengar kemudian kau melakukannya, adalah sebuah hasil dari prosesmu sebagai manusia. Ini nyata. 

Siapkan dirimu untuk arus yang lebih deras. Untuk tebing yang lebih terjal. Untuk jurang yang lebih curam. Untuk langit yang lebih biru dan tinggi. Siapkan dirimu untuk segala sesuatu yang tak terduga. 

Ucapkan kata sayang dan berikan pelukan untuk penyemangat harimu. Lakukan pada dirimu, selanjutnya pada mereka yang mencintai dan membencimu. Dan atau mereka yang menganggapmu biasa-biasa saja. Kuatkan hatimu agar kau bisa menguatkan yang lain. Sembuhkanlah dirimu agar kau bisa menyembuhkan yang lain. 

Berpeganglah pada keyakinanmu. Percayalah bahhwa Dia ada untukmu, dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. “Mandhep mantep marang Gusti”. Istilah Jawa yang tepat untuk menggambarkannya. 

Jangan menjadi hebat, karena kata itu akan membebanimu dan menghancurkanmu lewat kesombongan-kesombongan. Jangan jadi hebat, karena kata itu akan menggulirkanmu ke dalam ceruk yang sulit untuk gapai dasarnya. Jadilah biasa saja dengan kekuatan pikir, rasa, karsa yang elegan berdasar amanah langit. Niscaya kau akan merasakan hasilnya. 

Percayalah, selalu ada penopang dalam hidupmu. Dia tidak akan membiarkanmu sendiri menanggung berat pikulan yang diberikan padamu. Dia akan mengutus ciptaannya untuk menemanimu. 

Percayalah…

Percayalah…

Bintang kemenangan

IMG_9887

Kau adalah bintang. Seperti namamu, Taara Paalgunii Tunggadewi yang berarti bintang kemenangan dan keluhuran telah bersatu. Butuh waktu yang cukup lama untuk mencari namamu. Butuh keteguhan hati untuk menamaimu dengan ketiga kata itu. Dan kau lahir dengan penuh sinar, benar-benar bersinar layaknya bintang.

Kau tumbuh dalam keras dan lembutnya didikan kami. Rambutmu selalu berbau matahari, sekalipun sudah keramas berkali-kali. Kau selalu marah ketika kami mengolokmu dengan candaan bahwa hidungmu pesek. Dengan marah kau katakan bahwa itu bukan pesek, tetapi landai. Kau selalu bilang ‘gapapa’ ketika kami melarangmu melakukan sesuatu yang berbahaya. Kau yang selalu bilang ‘dicoba dulu, pasti bisa’ ketika kami gagal melakukan sesuatu dan hendak menyerah. Kau yang selalu menangis tanpa suara ketika kami marah, hanya airmatamu yang kemudian berlinang di pipi tembemmu. Kau yang selalu mengatakan ‘i love you’ kepada kami setiap hari. Kau yang selalu membuat kami jengkel ketika ngeyelmu berkelanjutan. Kau selalu punya cara untuk membuat kami tertawa, sekalipun itu tidak lucu. Seringkali kau memaksakan kehendakmu untuk pergi ke suatu tempat tanpa berpikir panjang. Kau juga yang selalu menari goyang bokong ketika kami merasa butuh dihibur. Kau selalu membisiki kami ketika menginginkan sesuatu, sekalipun itu hal yang sangat sepele.

Kau selalu menemani ketika kami bekerja. Dengan keriuhan suaramu, kau menawarkan ‘Bapak mau dhahar apa? Ibu mau pesan apa?’dari pasaranmu, mainanmu, yang selalu khusyuk kau lakukan. Kau selalu belajar untuk menanam bunga, meskipun tekniknya salah. Kau selalu membuat mainanmu berantakan dan malas membereskannya kembali, jika kami tidak berteriak heboh padamu. Kau senang mengganti channel tv ketika kami asyik nonton. Kau juga senang berlama-lama di kamar mandi hanya untuk bermain air dan monolog. Ya, monolog. Kau juga senang jungkir balik dan berlarian di dalam rumah, sekalipun kami sudah berteriak-teriak melarangmu. Kau senang makan steak, tetapi tidak menolak ketika kami ajak nongkrong di angkringan dan memesan es jeruk atau teh panas. Kau selalu tidak mau dikatakan anak kecil dan tidak mau digandeng ketika berjalan, karena kau merasa bahwa dirimu sudah besar dan menjadi kakak bagi adik-adikmu. Kau suka membaca penggalan-penggalan tulisan dimanapun itu berada. Jika itu di jalan, kau akan berusaha untuk membacanya dengan cepat. Kau juga sering bertanya tentang hal-hal di luar nalar anak-anak. Pertanyaan yang paling kuingat dan aku sulit menjelaskannya adalah ketika kau bertanya ‘Ibu, lonthe itu apa?’ dan ‘Ibu, kenapa Tuhan itu ada dan menciptakan manusia?’. Kau belajar menjadi anak yang terstruktur dalam setiap kalimat yang kau ucapkan. Kau juga suka menyindir dan mengolok, atau  membalikkan keadaan. Kau adalah anak kecil yang cerewet dan cenderung perfeksionis. Sekalipun kau tidak bisa melafalkan huruf ‘r’ dengan benar, tetapi kau selalu bisa menjelaskan sesuatunya dengan baik.

Terimakasih, karena kau sudah mengajari banyak hal. Kau mengajari kami melewati masa sulit, rapuh, jatuh, bahagia, sedih, tertawa, dan banyak rasa-masa yang lainnya. Kau menjadi bintang ketika kami lelah dalam gelap. Matamu yang sendu selalu menaungi dan penuh belas kasih. Kasih yang murni tanpa embel-embel apapun. Kau adalah malaikat yang diutus oleh-Nya untuk selalu memeluk ketika kami sedih, mengajari kami menari ketika kami bergembira.

Doa kami untukmu, jadilah engkau pribadi yang keras dan lembut dalam waktu yang bersamaan. Jadilah engkau pribadi yang tak pernah menyerah, apapun dan bagaimanapun kondisimu. Jadilah pribadi yang penuh tanggungjawab, belas kasih, dan cinta yang selalu meletup-letup disetiap langkahmu. Jadilah pribadi yang percaya dan takut akan Tuhan, hormat pada orang tuamu, dan mengasihi sesamamu. Jadilah bintang yang bersinar terang, di bumi dan di langit. Jadilah suar bagi gelap sekelilingmu. Jadilah penopang bagi kerapuhan. Jadilah bintang yang benar-benar bintang. Jadilah dirimu sendiri, Nak.

Peluklah dan selalu sadarkan kami tentang nikmat Tuhan yang diberikan melaluimu. Kami tidak meminta kau menjadi hebat, karena hebat seringkali membawa kita lupa pada hakekat kita sebagai manusia. Jadilah seperti dalam doa kami, karena itu adalah jalan menuju kehebatan yang sesungguhnya.

Taara- Bintang, terimakasih untuk semua pelajaran dan kasih tulus yang selalu ada untuk kami.